Langsung ke konten utama

Pengalaman Investasi LandX - Bedah Porto Andika Sutoro Putra & Portofolio Harjoko per September 2021

Salam Semangat Investor Indonesia. Setelah gagal dan tidak mendapat return investasi maksimal dalam berinvestasi ECF di Bizhare dan Santara. Penulis dengan semangat tinggi tetap mencoba lagi berinvestasi di ECF lain, yaitu LandX. Sekilas informasi tentang LandX dapat langsung dibaca di situsnya saja. Pada intinya, LandX adalah Equity Crowdfunding/urun dana khusus untuk UMKM atau gampangnya Bursa Efek khusus UMKM. 

pexels free to use photo by anna-nekrashevich

Apakah LandX Illegal? Investasi Bodong? Sindikat Penipu? Pinjol?

Berdasarkan penelitian ala kadarnya, penulis menemukan jika LandX sudah berijin OJK sebagaimana Keputusan OJK Nomor Kep-68/D.04/2020. Singkat cerita, LandX sama sekali bukan investasi illegal apalagi bodong layaknya penawaran investasi forex, mopit di telegram yang banyak diterima penulis. 

Apakah LandX merupakan pinjol gelap? ini adalah pertanyaan paling absurd yang penulis dengar. LandX bukanlah pinjol, memang melalui keduanya, kita sama-sama dapat memperoleh uang tapi esensinya berbeda. Di pinjol, kita memperoleh uang dengan berhutang, sebaliknya di LandX kita memperoleh uang dari hasil investasi.

Kelebihan dan Kekurangan LandX?

Kelebihan atau keuntungan investasi LandX sudah banyak diulas sendiri LandX di halaman ini, dan di tulis di halaman ini juga. Jika ada pembaca yang malas membuka, maka inti daripada keuntungan investasi di LandX menurut LandX sendiri adalah mencegah kemiskinan dan memakmurkan rakyat Indonesia.

Satu hal yang penulis sayangkan dari LandX, yaitu belum menyediakan sarana komunikasi seperti telegram atau whats app dan sejenisnya untuk berdiskusi langsung dengan penerbit. Penulis sendiri sudah mencari-cari hal itu di telegram, web, maupun prospektusnya, namun tidak ketemu (jikalau ada pembaca yang lebih update informasi ini dapat berkomentar di bawah). Sehingga, menurut penulis, LandX kurang mempedomani POJK Nomor 37 Tahun 2018 pada Bagian keenam pasal 16 huruf (1) yang menyatakan jika penyelenggara (dalam hal ini LandX) menyediakan fasilitas komunikasi secara online antara pemodal dan penerbit.

Otak penulis yang sering tumpul dan jarang di asah ini cukup terbantu dengan isi prospektus LandX yang menyediakan proyeksi dalam dua kategori, yaitu moderat dan konservatif. Walaupun ada kegalauan dalam pikiran, kenapa yang disediakan hanya sekedar proyeksi saja, bukan perhitungan atau data historis. Penulis hanya menggumam dalam hati saja..."jangan-jangan LandX sudah tau bahwasanya percuma menyajikan Laporan Keuangan Historis lengkap.....hal itu nirfaedah dan sia-sia belaka, karena otak penulis yang tumpul.....tidak akan sanggup mencerna angka-angka itu...".

Kekurangan paling fatal LandX dari kacamata penulis, adalah sampai saat tulisan ini terbit, LandX belum menyediakan diskon atau promo-promo untuk mengurangi nominal nilai investasi. Padahal, hal itu bertaburan di ECF sebelah (Bizhare dan Santara). Hasil penelusuran penulis, LandX malahan menyediakan giveaway semacam alat elektronik bikinan mendingan Steve Jobs dan emas yang dipaskan dengan tanggal Ultah Negara Indonesia. Penulis tidak memerlukan giveway-giveaway semacam itu, yang penulis inginkan adalah pengurangan minimal Investasi. Nilai minimal investasi satu jutaan masih terlalu berat bagi kantong doraemon penulis. 

Bagaimana tingkat risiko ber-Investasi di LandX

Hal menarik yang menjadi perhatian penulis adalah tagline di halaman muka LandX, yaitu "Miliki dan Nikmati Keuntungan dari Bisnis Rendah Risiko Mulai dari Rp.1 juta". Menarik sekali terdapat kata rendah risiko. Bagaimana cara LandX dapat mengklaim para penerbit bisnis memiliki risiko yang rendah. Jargon umum di dunia investasi adalah saham merupakan instrumen investasi yang berisiko tinggi. LandX sendiri merupakan bursa saham UMKM yang bahkan risikonya lebih tinggi dibandingkan membeli saham Blue Chip di Bursa Efek Indonesia (IDX).

LandX sendiri sudah menjelaskan risiko investasi dan mitigasinya pada link berikut. Singkatnya, risiko investasinya yaitu risiko gagal usaha, kerugian atau penurunan sebagian/seluruh modal investasi, likuiditas karena kita tidak dapat menjual saham setiap saat, tidak adanya dividen karena kinerja penerbit bisnis yang mengecewakan/rugi, adanya dilusi atau penurunan persentase kepemilikan saham, dan kegagalan sistem elektronik LandX. Risiko paling besar menurut penulis adalah risiko usaha dan kerugian. Untuk memitigasi atau meminimalisir berbagai risiko tersebut, LandX sudah melakukan berbagai macam tindakan, seperti hanya bekerja sama dengan penerbit atau perusahaan yang memiliki track record baik dan menyeleksi bisnis yang menghasilkan keuntungan.

Menurut penulis, pernyataan tersebut hanya bersifat normatif atau klise belaka layaknya trik marketing. Dalam benak penulis, tingkat risiko rendah juga disebabkan karena figur manajemen (termasuk founder dan co-founder) yang kompeten dan handal di balik LandX. 

Penelusuran menunjukkan jika penulis cukup yakin dengan kompetensi dan kapabilitas co-founder LandX yang salah satunya bernama Andika Sutoro Putra sebagaimana ditulis swa.co.id pada link berikut. Doi juga menjabat sebagai CEO LandX sebagaimana ditulis oleh mediaindonesia pada link ini. Penulis termasuk orang yang kenal dekat dengan Andika Sutoro Putra melalui akun youtubenya, sayangnya beliau tidak kenal dengan penulis.

Andika Sutoro Putra terkenal dengan jargon hashtag #belibank. Otak penulis yang kadang menghilang, membuat penulis bingung apa maksud hashtag itu. Apakah Bro Andika ingin mengakuisisi Koperasi gurem di pinggiran Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir untuk diubah menjadi Bank Perkreditan Rakyat. Ternyata arti #belibank adalah kita berinvestasi dengan membeli saham bank The Big Four yang memiliki kapitalisasi terbesar di Bursa Efek, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Dengan pongah dan jumawanya, Bro Andika membeli masing-masing saham Bank itu sebesar Rp25 juta dikali 4 bank setiap bulannya atau menghabiskan uang Rp100 juta per bulan hanya sekedar untuk program #belibank.

Penulis ragu dengan proyek Bro Andika #belibank dapat memberikan return maksimal. Dari video youtube-nya, yang ada disini, terlihat jika doi mengalami kerugian (walaupun mungkin belum diperhitungkan dengan dividen yang diterima) per Juni 2021 sebagai berikut.

sumber capture dari https://www.youtube.com/watch?v=jRVTcxxVZQU

Dari gambar terlihat Bro Andika mengalami floating loss sebesar -Rp52.088.482,00 atau -6,52% (dengan asumsi tidak memperhitungkan dividen). Update terbaru kondisi floating loss beliau dapat dilihat langsung di akun youtube Bro Andika disini. Penulis lebih suka dengan pilihan #belibank Al Ustad Yusuf Mansur yang terkenal dengan jargon Mansurmologi yang memilih membeli BRIS. Menurut kabar dari cnbc, Ust. Yusuf mendapatkan keuntungan tiga kali pokok (threebagger) sebagaimana link disini. Persentase keuntungan Ust. Yusuf merupakan suatu jumlah yang fantastis sekali, yaitu threebagger dibanding -6,52% milik Bro Andika. Persentase return ini layaknya perbandingan Gajah Dumbo melawan Semut Rang-rang, sangat membagongkan sekali. 

Namun, sekali lagi, pembaca perlu waspada dengan tidak melihat return investasi semata. Hal ini membuktikan jika Bro Andika memang memiliki kemampuan me-manage risiko lebih baik daripada Ust. Yusuf. Return rendah yang dimiliki Bro Andika menunjukkan kedewasaaan yang dimiliki dengan berinvestasi pada Bank yang memiliki risiko lebih rendah (The Big Four) dibanding Al Ustad Yusuf Mansur dengan Mansurmology yang cenderung memilih saham berisiko tinggi. 

Akhir kata, penulis yakin Co-Founder LandX yang bernama Bro Andika dapat mewujudkan jargon LandX tentang risiko rendah, yang terlihat dari tingkah polahnya di Youtube.

Pengalaman atau Reviu LandX dari Rakyat Indonesia

Penulis cenderung skeptis dengan reviu yang disajikan pada LandX seperti pernyataan Herbert yang mengatakan "LandX memberikan solusi mudah dah cepat untuk mengembangkan uang....". Lalu ada Valerie yang menjelaskan "Akhirnya ada solusi investasi properti... Layanan LandX sangat baik, kinerja investasi sangat memuaskan,....". Penulis menolak mentah-mentah dan sama sekali tidak percaya dengan klaim pernyataan kedua orang itu. 

Agar tidak bias, penulis juga mencari pengalaman berbagai pihak menggunakan LandX di google. Hasil yang diperoleh ternyata sangat terbatas. Dari hasil pencarian, hanya satu blog milik adrian tambunan (seorang dokter di Medan) yang menjelaskan sekilas LandX dalam kategori "Masih dalam Penilaian" pada link berikut. Pada blognya, Pak Adrian menulis jika Santara dan LandX merupakan crowdfunding yang mirip dan cukup unik. Beliau juga menjelaskan karena pandemi, hasil investasi beliau di Santara sedikit berkurang sehingga tidak dapat membahas lebih mendalam. Penulis yakin dr. Adrian nyangkut di Santara dan mengalami kerugian usaha sehingga tidak mendapat dividen. Penulis sendiri sudah mengulas mendalam tentang ECF Santara, pendapat para Investor Santara, dan kelemahannya dalam link berikut.

Review lain atas LandX dilakukan oleh seorang Youtuber dengan akun Yusuf Bicara Investasi, pada video yang berjudul Review Jujur Pengalaman 2 Tahun di Crowdfunding LandX sebagai berikut. 

Pada video tersebut, si Yusuf yang sudah 2 tahun berinvestasi di LandX membeberkan komposisi portofolio saham yang dimiliki, antara lain saham Indekost, Facility Service Management - PT. Solusi Indonesia Anugerah Perkasa, dsb. Doi menjelaskan lebih lanjut, jika semua proyek indekost di LandX rutin membagi dividen setiap bulannya walaupun ada pandemi. Menurut doi, sepertinya demand kost tidak berkorelasi dengan pandemi. Doi juga mengatakan dengan bangganya, jika return yang diperoleh dari usaha kost itu sekitar 5 s.d.8% per tahun. Rincian nilai investasi dan return yang diperoleh Doi sebagai berikut.

sumber: capture dan diolah lagi dari https://www.youtube.com/watch?v=LKMu2TpHFKs&t=910s

Dari gambar terihat jika return bisnis kost berkisar antara +5.83% s.d +11.83%. Benar sekali pernyataan doi, return tersebut memang lebih besar dari return deposito di BPR pinggiran Kota Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya yang berkisar 4% s.d. 5% (ya mirip-mirip lah). Penulis takjub tarhadap proyeksi return yang menohok sanubari, yaitu dari bisnis Facility Service Management yang diperkirakan sebesar +33,76% per tahun.

Minimnya return atau keuntungan di properti khususnya kost-kostan, telah mengkebiri niat penulis untuk berinvestasi pada properti ditambah luka lama yang masih berbekas, karena nyangkut di LPKR (saham properti grup Lippo) sebesar -41,72% yang dapat pembaca nikmati pada link di situ.

Pada akhirnya, penulis sangat ingin membuktikan dengan otak dan mata kepala sendiri, Bagaimana kualitas penerbit LandX? Apakah sesuai dengan pernyataan Herbert, Valeri, dan Yusuf Bicara Investasi? atau hanya omongan pepesan kosong ala ala marketing LandX. Tanpa pikir panjang, penulis langsung saja membuka akun di LandX dan membeli saham di penerbit sebagaimana penjelasan di bawah.

Bagaimana Pengalaman Penulis pada LandX

Pada bulan September 2021, LandX memiliki tiga penerbit yang membuka bisnis yaitu Byurger Restoran, Yellow Carwash, dan Anargya Perikanan. Dari hasil kasak kusus dan gibah dengan para mahasiswi molek yang sering nongkrong di lingkungan kampus penulis. Akhirnya, penulis jatuh cinta dengan saham Anargya Perikanan atau lengkapnya Usaha pembuatan Kapal SM Alam Bahari 6 oleh PT. Anargya Sinar Maritim sebanyak 1 lot atau senilai Rp1.120.000,00. 

Ada dua alasan penulis membeli saham Kapal itu. Pertama, dalam prospektusnya, Anargya memproyeksikan return dividen sebesar 10 s.d. 15% per tahunnya. Menurut penulis, jika memang proyeksi tersebut sesuai, maka sudah memberikan return yang jauh di atas deposito dan return properti. Dengan asumsi paling konservatif, penulis mungkin bisa mendapat 10% x Rp1.120.000,00 = Rp112.000,00 per tahun. Jumlah uang tersebut dapat penulis pergunakan untuk berfoya-foya nongkrong di Cafe favorit penulis yaitu Indomaret Point Cafe, tentunya ditemani gadis-gadis primadona di lingkungan kampus penulis yang terkenal manja dan centil. Penulis mendambakan mencucup segarnya Es Kopi Belimbing seharga Rp25.000,00. Penulis sangat suka dengan Es Kopi itu karena rasanya aneh fenomenal, tentunya lebih asyik sambil berghibah dengan para gadis tentang usaha Aldi Taher jualan Mie Ayam. 

Alasan kedua, karena penerbit dalam prospektusnya berjanji melakukan pembelian kembali (buyback) saham dalam jangka waktu 3+1 tahun sejak bulan September 2021, dengan harga par saat penawaran perdana. Dengan adanya hal ini, jika penulis sudah muak dengan kinerja perusahaan dan imbal dividen jauh di bawah proyeksi, tentunya dengan suka cita, penulis akan segera menerima tawaran buyback dari penerbit.

Perkembangan portofolio dan return dividen dari LandX akan penulis sajikan pada tulisan-tulisan berikutnya. Sejauh ini penerbit Anargya masih dalam masa kampanye, sehingga penulis belum mendapatkan pengalaman nyata dari LandX. Perkembangan pengalaman baik isi portofolio maupun return yang diperoleh dari LandX akan penulis sajikan pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Simpulan dan Saran

Menurut penulis, simpulan tulisan acak adut diatas sebagai berikut.

  • LandX adalah jenis ECF yang menarik karena menyediakan beragam bisnis di bidang properti dan bisnis unik lainnya. 
  • LandX juga sudah berijin OJK dan bukan bagian dari komplotan konspirasi bisnis bodong. 
  • LandX juga mencoba untuk memiliki risiko rendah dengan melakukan mitigasi yang dibuktikan sendiri oleh pola pikir CEO-nya. 
  • LandX terlalu percaya diri dengan kemampuannya yang cepat mengumpulkan pendanaan (fully funded) tanpa memberikan promo dan/atau diskon pengurangan minimal investasi.

Saran bagi pembaca adalah untuk mulai menaruh kepercayaan kepada LandX dan berinvestasi di ECF untuk memajukan UMKM Indonesia. 

Saran kepada Bro Andika agar mengubah kampanye #belibank menjadi #belibanksyariah agar dapat menarik minat ummat. Saran kepada dr. Adrian tambunan dan Yusuf Bicara Investasi jika ingin tetap fokus di ECF dan berhasrat mendapatkan return yang lebih tinggi dengan risiko rendah agar mencoba bisnis Minimarket di Bizhare. 

Saran kepada LandX agar membuat sarana komunikasi untuk berdiskusi dengan penerbit dan penyelenggara seperti ECF-ECF lainnya dan mempertimbangkan opsi pengurangan minimal investasi dengan berbagai cara, misalnya promo/diskon. 

Saran kepada OJK agar mendorong LandX untuk menyediakan sarana komunikasi dimaksud.

Demikan tulisan ini bertujuan sebagai acuan bagi investor serta memberikan kritik dan saran bagi berbagai pihak. Penulis akan mencoba secara rutin mengupdate tulisan ini jika terdapat perubahan dan perkembangan informasi dan data terkait portofolio saham ini.

Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis bukan merupakan pendapat organisasi/institusi. Perlu pembaca ketahui Disclaimer dalam tulisan ini adalah penulis tidak bertanggung jawab atas pilihan penyelenggara urun dana dan saham pilihan pembaca. Semua keuntungan dan kerugian daripada transaksi yang dilakukan adalah tanggung jawab jari-jari pembaca sekalian. Penulis hanya ingin memberikan pengalaman dari sudut pandang penulis saja, agar dapat direnungkan dan dimaknai dengan bijak. Terima kasih.



Komentar

Artikel Populer Lainnya

Reviu Investasi Saham di Amerika dengan Gotrade - Portofolio Harjoko per September 2021

Pengalaman Review Investasi TokoCrypto - Portofolio Harjoko per September 2021

Apakah Tokocrypto Illegal di Indonesia? Apa Kelebihan dan Kelemahan Tokocrypto?

Reviu Investasi Bizhare - Studi Kasus Alfamidi Boulevard & Portofolio Harjoko per September 2021

Reviu Investasi Saham Luar Negeri dengan Etoro - Portofolio Harjoko per September 2021

Apakah Gotrade Penipu? Layak dinyatakan illegal? dan bagian dari investasi bodong?

Cuan Maksimal dengan Investasi di Bizhare - Pengalaman Investor Receh & Studi Kasus Alfamidi KH Mas Mansyur Surabaya