Langsung ke konten utama

Strategi Sukses Investasi Saham - Bedah Portofolio Yudha Keling & Portofolio IDX Harjoko per Agustus 2021

Halo rakyat Indonesia yang masih bersemangat ingin kaya mendadak. Salam Literasi Keuangan. Penulis mengetahui ada salah satu influencer kocak, seorang komedian yang "ngakunya" rugi banyak karena main saham dan kripto, namanya adalah Yudha Keling. Si Yudha dalam akun tik-tok nya membeberkan nilai dan persentase kerugian saham yang konon katanya menggegerkan dunia persilatan dan persahaman. Bahkan dengan jumawa dan konyolnya, Si Yudha Keling menyalahkan alam semesta dengan jargonnya yang kurang terkenal, "lagi-lagi dijegal semesta". Sebenarnya apa salah alam semesta terhadap Yudha Keling? 


Sumber: di capture dari https://www.tiktok.com/@yudhakhel/video/6992440706455309594?lang=en&is_copy_url=1&is_from_webapp=v1

Berdasarkan gambar tersebut, terlihat jika tiga saham unggulan Yudha Keling adalah ENVY dengan return sebesar -31,5%, IRRA dengan return yaitu -42,89%, dan paling menakjubkan FIRE dengan return senilai -60,91%, dengan rata-rata keseluruhan saham sebesar -10,49%Menurut pandangan keilmuan dan pengalaman penulis yang sudah puluhan bulan bergelut di dunia saham. Dapat terlihat jika saham-saham yang dibeli Saudara Yudha termasuk dalam kategori yang penulis sebut sebagai deep fried stock alias saham gorengan berkolesterol tinggi. Penulis menengarai Saudara Yudha termasuk investor penyabar berkantong lebar dengan membeli saham tersebut. Bedah kinerja untuk ketiga saham pilihan Mas Yudha Keling per tanggal 25 Agustus 2021 sebagai berikut.

saham ENVY termasuk dalam indeks Teknologi, saat ini statusnya di-suspen bursa, atau sudah menjadi saham zombie dan mendapat tiga notasi IDX, yaitu L (belum menyampaikan laporan keuangan), S (tidak ada pendapatan), dan X (dalam pemantauan khusus). Komposisi shareholder masyarakat (kurang dari 5%) sebanyak 93,37%. 

saham IRRA termasuk gerombolan saham kesehatan, kondisi cukup likuid untuk level keuangan si Yudha, masih ada peminat, dan cenderung sideways, tidak memiliki notasi apapun, komposisi shareholder masyarakat (kurang dari 5%) sebanyak 18,75%. 

saham FIRE termasuk saham tambang, kondisi cukup likuid untuk level keuangan si Yudha, rame, dan lancar, tidak memiliki notasi apapun, komposisi shareholder masyarakat (kurang dari 5%) sebanyak 47,98% dan ada juga raksasa Asabri sebesar 15,58%.

Berbekal mata batin dan pengalaman penulis, diyakini jika saham ENVY nampaknya sudah tidak ada harapan lagi. Sebaliknya, FIRE dan IRRA hanya saham yang menguji kesabaran saja. Selain Yudha Keling, penulis meyakini di ujung negeri ini, sebenarnya masih banyak tersimpan kilauan mutiara terpendam, seonggok "red ruby" simpanan investor gokil yang pandai menyembunyikan portofolio sahamnya yang merah merona. Investor tersebut mampu menyembunyikan isi portofolionya dari publik bahkan dalam lingkungan pribadi seperti istri dan keluarga. Penulis mengibaratkan Investor tersebut memiliki kemampuan yang mampu disandingkan dengan pejabat korup yang lihai menyembunyikan wanita selingkuhan muda, seksi, cantik, dan molek dari jangkauan aparat berwajib (Polda). 

Apa Motivasi Investor Tetap Menyimpan Rahasia Terdalam Rapat-Rapet?
Pertanyaan ini merupakan misteri besar bagi penulis di era keterbukaan informasi dan revolusi industri 4.0. Alasan dan motivasi investor tersebut menyimpan rapat-rapet harta yang dimilikinya menurut pendapat penulis sebagai berikut. 
  1. Ketakutan dipantau dan didamprat aparat berwenang (yaitu istri/suami jika sudah menikah atau ayah/ibu jika masing belum menikah), 
  2. Malu dicemooh oleh khalayak ramai layaknya pasangan kumpul kebo yang ketahuan sehingga diarak keliling kampung penulis, 
  3. Merupakan aib biadab cerminan ketololan yang harus ditutup tutupi agar tidak terlihat bodoh dimata handai taulan, teman atau kerabat, 
  4. Merasa sakit hati dan terzalimi saat melihat nilai dan kondisi harta itu yang terus terpuruk dan tidak ada kemungkinan membaik.
Oleh karenanya, penulis sendiri memberikan tepuk tangan standing ovation bagi Saudara Yudha Keling yang tanpa tedeng aling-aling terbuka menjabarkan portofolionya yang merah merona. Dalam benak penulis, langkah sporadis ini akan mendorong investor lainnya untuk mawas diri, dan melihat, jika di atas langit masih ada langit, yang artinya, di atas orang bodoh masih ada orang bodoh lainnya. Selalu ada kebodohan yang muncul di muka bumi ini.

Bagaimana dengan penulis? Apa kaitannya membahas Yudha Keling, apakah penulis juga berinvestasi di BEI? Bagaimana kondisi Portofolio Penulis?

Itu adalah sekelumit pertanyaan yang diajukan secara pribadi kepada penulis. Banyak pembaca dan inner circle penulis yang mengira jika penulis adalah orang sukses di dunia investasi. Penulis dikira sebagai orang yang telah banyak untung besar, memiliki akun saham di Luar Negeri, bahkan dengan langkah berani berinvestasi di Equity Crowdfunding (ECF) yang tidak kalah tinggi risikonya dengan saham itu. 

Disini penulis ingin menegaskan kepada Yudha Keling, jika beliau tidaklah sendirian, sebagaimana pepatah yang telah ditulis di atas (yang di atas langit masih ada langit). Portofolio milik penulis juga tidak kalah menterengnya dengan milik Yudha Keling, sebagai berikut.

Dapat terlihat jika 5 dari 6 saham milik penulis mengalami kerugian yang bervariasi dari yang terbesar (-41,72%) dan yang terkecil (-10,73%). Secara keseluruhan portofolio penulis (-27,92%sebagaimana gambar berikut.


Bahkan penulis mendapatkan kata-kata penyemangat dari sekuritas yaitu "Gapapa, roda berputar. Tetap Konsisten". Lecutan kata-kata mutiara itu membuat dada penulis bergetar, penulis hanya bisa menatap dengan nanar dan berusaha tetap konsisten untuk menjaga ukuran penulis tetap besar dan merah sebesar (-27,92%), mengalahkan milik Yudha Keling hanya hanya sebesar kuku jempol penulis yaitu (-10,49%). Dari gambar di atas, sudah jelas terlihat milik penulis terlihat lebih berisi, besar, merah dan tidak kalah jika dibanding-bandingkan dengan milik Yudha Keling.

Strategi Penulis untuk Mengalahkan Portofolio Yudha Keling
Penulis sendiri dengan gaya pongah dan jumawa, selalu berkoar-koar di media sosial jika milik penulis juga besar. Penulis menganggap ukuran yang besar itu bukanlah aib, tapi sebagai kekuatan tersembunyi yang akan terbangun di kemudian hari. Oleh karenanya, penulis sangat berhasrat ingin mengalahkan Yudha Keling dengan telak. Penulis sudah menyiapkan berbagai strategi agar dapat membuat Yudha Keling bertekuk lutut. Berbagai langkah tersebut diberi nama "Operasi Perbesaran Master Portofolio" atau yang disingkat " Operasi Perbesaran Mr. P", dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama, jangan pernah menerapkan Money Management, penulis berkiblat pada konsep usaha berbanding lurus dengan hasil. Penggunaan Money management artinya kita membeli saham secara bertahap. Sehingga, jika harga turun, maka investor dapat tetap membeli saham di harga yang lebih rendah lagi. Efeknya nilai kerugian menjadi dapat diminimalisir. Akan tetapi, money management juga akan mengurangi keuntungan maksimal yang seharusnya diperoleh penulis, karena pembelian dilakukan bertahap, Contohnya dijelaskan sebagai berikut.

Misal, seorang investor yang memiliki modal Rp1 juta dan membeli saham seharga Rp100 ribu/lembar. Karena menggunakan money management, maka saham dibeli secara bertahap (misalnya 5 kali atau Rp200 ribu per pembelian). Pada tahap pertama hanya boleh membeli Rp200 ribu saja atau mendapatkan dua lembar saham, dst.  Jika harga saham naik menjadi Rp110 ribu per lembar maka investor yang menggunakan money management hanya akan mendapat keuntungan sebesar 2 lembar x Rp10 ribu = Rp20 ribu saja. 

Lain halnya investor seperti penulis, yang tentunya tidak ambil pusing dengan money management dan langsung saja membeli keseluruhan saham sebesar Rp1 juta dalam satu waktu dan langsung mendapat 10 lembar saham. Jika harga saham naik menjadi Rp110 ribu per lembar, artinya keuntungan yang diperoleh per lembar adalah Rp10 ribu, sehingga total keuntungan penulis sebesar 10 lembar x Rp10 ribu = Rp100 ribu. Simulasi lebih sederhana, apabila ada pembaca yang kapasitas otaknya terbatas, sebagai berikut.

Dapat dilihat disini, penggunaan money management yang diagung-agungkan para pakar saham malahan tidak memberikan keuntungan maksimal (Rp 20 ribu vs Rp100 ribu).


Kedua, penulis tidak percaya dengan fundamental dan teknikal. Penulis sudah kadung yakin dengan olah ilmu kanuragan yang dimiliki yaitu FA (Feeling Analysis). Ilmu ini antimainstream dan tidak banyak digunakan oleh para investor dan trader di seluruh dunia. Keunggulan FA daripada fundamental, teknikal, bahkan teknofundamental adalah jauuuuuuuuuh lebih mudah dipelajari dan tidak akan menambah kerutan-kerutan di dahi. FA hanya mengandalkan mata batin dan diskusi dalam hati penulis untuk memantapkan pilihan.

Ketiga, rumor dan kabar burung adalah dua jenis berita penting untuk dianalisis, layaknya video viral 19 detik yang harus cepat didownload dan dianalisis dengan seksama untuk memuaskan dahaga sebagai bahan obrolan kopi pagi di lingkungan inner circle penulis. Tulisan tentang pentingnya rumor dan kabar burung dijelaskan oleh penulis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam link berikut. Tulisan tersebut menunjukkan jika manusia secara naluriah lebih cepat dalam menangkap berita negatif, gosip, rumor, berita buruk, dan kabar burung dibandingkan berita bahagia, suka cita, dan berita positif lainnya. 

Dari sini terlihat, jika teknik ini tidak perlu dipelajari, karena sudah menjadi semacam  indrawi dasar. Hal ini juga menegaskan jika manusia tidak pernah dapat dilepaskan dari rumor dan kabar burung. Oleh karenanya sebagai investor, penulis harus dapat  memanfaatkannya sebagai dasar jual atau beli saham. 

Keempat, Deep fried stock merupakan pilihan saham utama penulis. Penulis tergila-gila dengan jenis saham ini, bagaikan makanan lezat klangenan penulis. Deep fried stock  dapat diibaratkan layaknya menikmati fine dining di angkringan mewah di dukuh penulis, berupa kombinasi menu terbaik Chef Recommended, yaitu oseng-oseng Monstera Andasonii atau sejenis janda bolong dengan taburan Chrysocolla Calcedoni alias bacan doko sebagai hiasan, ditambah keripik daun Agalonema untuk menambah tekstur, dan pilihan desert-nya yaitu Jus Anthurium segar tanpa es.

Saham gorengan sebagai saham berkolesterol tinggi, selain memberikan citarasa enak berupa volatilitas dan keuntungan yang tinggi, juga dapat membuat pembuluh darah pecah, jantungan, dan gangguan tidur.

Simpulan dan Saran
Terdapat dua simpulan dan nilai moral yang dapat ditarik dari tulisan ini. Pertama, selalu ada orang bodoh di dunia ini, oleh karenanya jangan mudah patah semangat dalam berinvestasi. Kedua, untuk Saudara Yudha Keling agar tidak jumawa dengan petantang petenteng memamerkan portofolionya. Saat ini, Anda telah mendapatkan saingan berat, seorang penantang baru, penulis blog terkenal merangkap investor dan pakar saham berpengalaman yang suka pamer portofolio dengan pongahnya. 

Saran kepada para pembaca dan investor yang masih bersemangat mencari kemakmuran agar mencontoh jalan ninja dan semangat Yudha Keling dan/atau penulis yang terus berlomba-lomba berinvestasi

Demikan tulisan ini bertujuan sebagai acuan bagi investor serta memberikan kritik dan saran bagi berbagai pihak. Penulis akan mencoba secara rutin mengupdate tulisan ini jika terdapat perubahan dan perkembangan informasi dan data terkait portofolio saham ini. Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis bukan merupakan pendapat organisasi/institusi. 

Perlu pembaca ketahui Disclaimer dalam tulisan ini adalah penulis tidak bertanggung jawab atas pilihan broker dan saham pilihan pembaca. Semua keuntungan dan kerugian daripada transaksi yang dilakukan adalah tanggung jawab jari-jari pembaca sekalian. Penulis hanya ingin memberikan pengalaman dari sudut pandang penulis saja, agar dapat direnungkan dan dimaknai dengan bijak. Terima kasih.
 





Komentar

danisby mengatakan…
Pencerahannya
Mantap Bro.
Salam Loss selalu...🧐😁

Artikel Populer Lainnya

Reviu Investasi Saham di Amerika dengan Gotrade - Portofolio Harjoko per September 2021

Pengalaman Review Investasi TokoCrypto - Portofolio Harjoko per September 2021

Apakah Tokocrypto Illegal di Indonesia? Apa Kelebihan dan Kelemahan Tokocrypto?

Reviu Investasi Bizhare - Studi Kasus Alfamidi Boulevard & Portofolio Harjoko per September 2021

Pengalaman Investasi LandX - Bedah Porto Andika Sutoro Putra & Portofolio Harjoko per September 2021

Reviu Investasi Saham Luar Negeri dengan Etoro - Portofolio Harjoko per September 2021

Apakah Gotrade Penipu? Layak dinyatakan illegal? dan bagian dari investasi bodong?

Cuan Maksimal dengan Investasi di Bizhare - Pengalaman Investor Receh & Studi Kasus Alfamidi KH Mas Mansyur Surabaya